Musannif – Sanusi, Membangun Aceh Besar Tanpa Partai, Sulit Diwujudkan

- Jurnalis

Senin, 30 September 2024 - 09:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Besar | Atjeh Terkinni -Hampir semua Dirjen, kementerian, dan pemangku kepentingan di pusat adalah titipan partai politik. Untuk menemui pejabat terkait guna mendapatkan proyek strategis, kadang hanya bisa berjumpa dengan staf yang sekadar mengagendakan surat, bahkan kepala bagian pun sulit ditemui.

“Meskipun ada partai atau perwakilan, terkadang juga sulit. Apalagi tidak ada partai sama sekali. Ini bukan hanya sekadar bicara, tapi sudah terbukti ada bupati di Aceh yang berasal dari non-partai, yang hanya berkantor selama tiga tahun, selebihnya habis di kebun,” Demikian di antara petikan orasi politik, Tgk. H. Musannif, SE., SH., calon Bupati Aceh Besar nomor urut 4, pada Sabtu malam, 28 September 2024, di Gampong Leugeu, Darul Imarah, Aceh Besar.

“Alhamdulillah, partai pengusung kami, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), memiliki kursi di semua tingkatan. Di Aceh Besar, dari sebelumnya hanya satu kursi, kini menjadi enam kursi. Di DPRA, dari kosong kini ada perwakilan, dan di DPR-RI juga ada, ditambah partai koalisi” lanjutnya.

Musannif menegaskan, jika dirinya terpilih sebagai Bupati Aceh Besar, insya Allah akan lebih mudah untuk melakukan perubahan yang berarti di wilayah ini. Fokus utamanya adalah pada pemberdayaan ekonomi, mulai dari sektor perikanan, pertanian, dan peternakan.

Baca Juga :  Dikukuhkan di Solo, Menkomdigi Beri Arahan kepada Pengurus PWI Persatuan

“Ini bukan berarti syariat Islam menjadi nomor dua, sama sekali tidak. Karena jika masyarakat lapar, mereka dekat dengan kekufuran,” jelasnya.

Sebagai kabupaten yang dekat dengan ibukota provinsi, Aceh Besar harus memiliki produk khas.

“Jika kita ke Aceh Selatan, ada pala. ke Sigli, ada kerupuk muling. Lalu, di Aceh Rayeuk? Apa yang kita punya? Mungkin ayam pramugari, tapi itu pun belum memiliki standar pemasaran skala besar dan masih bersifat lokal. UMKM kita harus naik kelas,” tambah Musannif.

Dengan anggaran sisa yang minus, untuk membangun 630 gampong di Aceh Besar, Musannif mengakui bahwa dana tersebut sangat kecil. Oleh karena itu, ia dan wakilnya bertekad untuk membawa perubahan yang lebih signifikan bagi Aceh Besar dengan menjemput dana ke pusat.

Musannif juga menjelaskan bahwa ia memilih calon wakil yang sefrekuensi dan sudah selesai dengan dirinya. Artinya, secara finansial sudah berkecukupan.

Ada jaringan yang dimiliki oleh Pak Sanusi di BUMN pusat, juga relasi sejumlah kementerian, serta Dirjen, ini menjadi faktor penting membangun Aceh Besar.

Baca Juga :  Jurnalis Tanam Pohon di Kantor BRA Aceh Utara Jadi Simbol Perdamaian

Karena saat ini, Aceh Besar menanggung hutang warisan yang lumayan besar dari pemerintahan sebelumnya.

Calon Wakil Bupati, Ir. H. Sanusi Hasyim, MM, menambahkan,
“Kami bersama Bapak Musannif memang sefrekuensi. Artinya, kami berasal dari latar belakang keluarga ulama. Saya, Sanusi Hasyim, lahir di Aneuk Batee, Sibreh, dari keluarga Tgk Chik Lam Bleut. Pak Musannif adalah cucu Abu Hasan Krueng Kalee.”

Sanusi juga menyebutkan bahwa meskipun ada partai lain yang mendekati, namun tidak berjodoh. Hanya Pak Musannif yang cocok karena kami sepakat membangun pemerintahan Dwi Tunggal. Ini juga menjadi alasan mengapa saya mendapat dukungan dari para tokoh di Jakarta yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Aceh Rayeuk (KEKAR).

Di usia 56 tahun, Sanusi mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu yang bermakna bagi masyarakat Aceh Besar.

“Alhamdulillah, saat saya menjabat sebagai Kepala Cabang Waskita Karya Aceh, beberapa proyek penting di Aceh telah rampung, seperti revitalisasi PT SAI, pembangunan landscape dan payung elektrik di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, serta Museum Tsunami,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait

Siang-Malam Dikebut, TNI Kerja Tanpa Henti Kejar Target KDMP di Aceh Barat
Human Initiative Gelar Lokakarya Pembelajaran Program Respons Banjir Aceh untuk Perkuat Kesiapsiagaan
Hari Buruh: Wangsa Sebut Aceh Barat Darurat Perlindungan Pekerja
Diskusi Santai Eksekutif-Legislatif, Bahas Isu Strategis dan Kondisi Fiskal Aceh Barat
Rakornis Perpustakaan dan Kearsipan se-Aceh Digelar di Meulaboh
Ketimpangan TKD di Aceh Barat, WANGSA: Evaluasi Total TAPA atau Pemekaran Wilayah
Disebut Tak Terdampak Bencana, Warga Aceh Barat Berang : Rumah Hilang, Jembatan Ambruk dan Sekolah Hanyut
Pasang Plang Klaim Sepihak, Lahan Hutan Krueng Meulaboh Dibabat untuk Tanam Sawit
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:46 WIB

Siang-Malam Dikebut, TNI Kerja Tanpa Henti Kejar Target KDMP di Aceh Barat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:47 WIB

Human Initiative Gelar Lokakarya Pembelajaran Program Respons Banjir Aceh untuk Perkuat Kesiapsiagaan

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:17 WIB

Hari Buruh: Wangsa Sebut Aceh Barat Darurat Perlindungan Pekerja

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:48 WIB

Diskusi Santai Eksekutif-Legislatif, Bahas Isu Strategis dan Kondisi Fiskal Aceh Barat

Rabu, 22 April 2026 - 11:03 WIB

Rakornis Perpustakaan dan Kearsipan se-Aceh Digelar di Meulaboh

Berita Terbaru

Langsa

Dihari Car Free Day, Pemko Langsa Peringati May Day 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:16 WIB