PAD Kopi Bener Meriah: Gelap dan Misterius, GMNI Pertanyakan Transparansi

- Jurnalis

Jumat, 3 Oktober 2025 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bener Meriah I Atjeh Terkini.- Kabupaten Bener Meriah dikenal sebagai jantung ekonomi yang bertumpu pada sektor pertanian, dengan kopi Gayo sebagai urat nadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan komoditas ekspor yang membanggakan.

Namun, ironisnya, di balik statusnya sebagai produsen kopi terkemuka, transparansi data PAD yang bersumber dari komoditas ini justru semakin gelap dan penuh misteri. Jumat, 3 Oktober 2025.

Sarinah Mahda, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bener Meriah, mempertanyakan hilangnya data kontribusi kopi terhadap PAD dari pantauan publik, termasuk di platform resmi pemerintah kabupaten.

Baca Juga :  Petani Tewas Diserang Gajah Liar di Bener Meriah

“Ini bukan sekadar kelalaian, melainkan anomali yang mencederai prinsip akuntabilitas publik, terutama mengingat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjamin hak setiap warga negara untuk mengakses informasi vital tersebut,” tegasnya.

Ketiadaan data yang transparan ini tidak hanya menghambat pengawasan publik terhadap pengelolaan keuangan daerah, tetapi juga menyulitkan mahasiswa dan peneliti yang membutuhkan akses informasi akurat untuk studi dan riset.

“Data yang seharusnya menjadi pilar pembangunan dan partisipasi masyarakat justru disembunyikan, menciptakan jurang antara janji transparansi dan realitas di lapangan. Puncak dari kegagalan ini adalah respons pemerintah daerah terhadap upaya GMNI,” lanjutnya.

Baca Juga :  Anggota Koramil 06/Bukit Cek Kondisi Jembatan Bailey Karang Rejo

Surat permohonan informasi resmi yang dilayangkan kepada Kepala Keuangan Kabupaten Bener Meriah dengan Nomor 075/DPC-Aktif/2025, hingga kini, tidak mendapatkan tanggapan atau penjelasan.

“Sikap bungkam ini bukan hanya mengabaikan hak konstitusional warga, melainkan juga mengkhianati semangat keterbukaan yang diamanatkan undang-undang. Ini adalah cerminan nyata dari mandeknya akuntabilitas di kota kopi ini,” pungkasnya. (bram).

Berita Terkait

Kontroversi Penilaian Lomba FLS3N Di Bener Meriah Viral Di Medsos 
Akses Jembatan Pantan Sinaku Segera Pulih, Pasca Di Terjang Banjir Bandang
Remaja 18 Tahun Hilang, Polres Bener Meriah Berharap Masyarakat Beri Informasi
Sadra Munawar: DPRK Bener Meriah Wajib Buka Hasil Pansus Bencana ke Publik
Curah Hujan Tinggi Picu Longsor di Desa Belang Tampu, Kecamatan Bukit Bener Meriah
Perkuat Struktur Jembatan Wih Kanis, TNI Gotong Royong Bersama Warga
Usai Dilaksanakan Peusijuek Di Lokasi, TNI Bergerak Cepat Rakit Jembatan Aramco
Akibat Curah Hujan Cukup Tinggi Akses Jalan Bireuen – Takengon Kembali Lumpuh Total
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:05 WIB

Kontroversi Penilaian Lomba FLS3N Di Bener Meriah Viral Di Medsos 

Jumat, 24 April 2026 - 09:27 WIB

Akses Jembatan Pantan Sinaku Segera Pulih, Pasca Di Terjang Banjir Bandang

Rabu, 22 April 2026 - 22:18 WIB

Remaja 18 Tahun Hilang, Polres Bener Meriah Berharap Masyarakat Beri Informasi

Sabtu, 11 April 2026 - 12:32 WIB

Sadra Munawar: DPRK Bener Meriah Wajib Buka Hasil Pansus Bencana ke Publik

Jumat, 10 April 2026 - 14:25 WIB

Curah Hujan Tinggi Picu Longsor di Desa Belang Tampu, Kecamatan Bukit Bener Meriah

Berita Terbaru

Langsa

Car Free Day Kota Langsa Mulai Membudaya

Minggu, 7 Jun 2026 - 13:27 WIB