Langsa | Atjeh Terkini.id – Menciptakan suasana sejuk dan damai di masyarakat, tentunya peran ulama menjadi penting, baik dalam tataran pemerintahan maupun kehidupan sosial.
Hal tersebut dikatakan salah seorang Tokoh Pemuka Agama di Kota Langsa Tgk. H. Syeh Muhajir Usman, S.Ag, LLM atau yang dikenal sebutan Abati Sheraya.
Ia menyoroti banyaknya persoalan yang saat ini terjadi, meski tak muncul di permukaan, namun seperti api dalam sekam meski wujud tak tampak namun hangatnya terasa.
“Saat ini kondisi di Kota Langsa kurang baik-baik saja, karenanya perlu disikapi secara arif dan bijaksana oleh Pemerintah Kota Langsa dengan melibatkan para tokoh agama,” ungkap Abati Sheraya, saat ditanya pandangannya terhadap situasi dan kondisi sosial masyarakat di kota Langsa, Sabtu (25/4/2026) kemarin.
Menyikapi hal itu, Abati Sheraya yang juga sebagai Pimpinan Dayah Darul Huda menyarankan alangkah baiknya Pemko Langsa menyertakan para ulama yang ada di Kota Langsa serta Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Langsa untuk duduk bersama seraya mencari solusi dan langkah – langkah yang tepat guna mendinginkan suasana.
“MPU, Abati Aramiyah, Abana Murdani, beliau-beliau inikan para tokoh ulama yang ada di Kota Langsa, tentunya punya pemikiran yang positif yang mampu mendinginkan suasana yang sedikit memanas saat ini,” ujar Abati Sheraya.
Dikatakan, apabila sebuah persoalan dibicarakan orang banyak, berarti menjadi sebuah perhatian yang harus ditanggapi secara serius. Nah, ketika umara dan ulama memiliki satu sikap yang sama maka gejolak sosial di masyarakat dapat di tangani bersama.
“Dipandang perlu untuk melibatkan para tokoh Pemuka Agama (Ulama – red), hal ini sudah bisa menjadi perhatian pemerintah agar memberikan ruang untuk para ulama guna menciptakan suasana damai dan tenteram,” ujarnya lagi.
“Nanti sewaktu diajak duduk oleh Pemko Langsa, maka banyak hal yang akan dibicarakan penegakan syariat lslam, pembangunan daerah yang bersyariat serta pembinaan mental spiritual,” paparnya.
Membangun sebuah daerah tidak terlepas peran serta ulama dan ini bentuk sinergitas antara pemerintah serta tokoh agama.
Abati juga, memaparkan bagaimana yang dikatakan adil adalah sesuatu yang dibagikan secara merata dan itupun bila kita memiliki saham (modal-red), namun bila tidak memiliki saham maka harus samiknawatakna saja. Itu yang dinamakan teori adil.
Terkait hal ini, Abati menyoroti dinamika yang terjadi dimasyarakat kota Langsa pascabanjir. Semua masyarakat berkeinginan mendapatkan bantuan. Namun baiknya bersabar, perkuat iman dan juga percayakan pada pemerintah.
“Banjir adalah peringatan dari Allah SWT, agar umat manusia sadar dan melakukan introspeksi diri. Karena itu diharapkan agar semua lapisan masyarakat agar bersabar, Allah menitipkan rezeki bagi umat yang mau bersabar dan berserah diri,” pungkasnya.(**)

















