Langsa | Atjeh Terkini.id – Pagi itu, embun masih menyisakan tetesannya di dedaunan. Teriknya mentari menyapa begitu hangat telusur bumi. Aktifitas masyarakat mengais rezeki seiring menyertai. Segala bentuk pekerjaan dilakoni dengan seteguh hati.
Demikian juga dengan pria lanjut usia ini. Hamdani (70) warga Gampong Tualang Teungoh, Kecamatan Langsa Kota. Mengumpulkan barang bekas adalah pekerjaannya sehari-hari hari.
“Cukuplah untuk beras, ikan asin, dan bumbu dapur guna kebutuhan tiap hari,” Kata Hamdani memelas, Rabu (22/4/2026).
Menghuni rumah kontrak sudah dilakoninya sepanjang hidup. Ia bersama istri, seorang anak dan cucu tinggal bersama dalam keterbatasan ekonomi yang melilitnya.
Dengan sepeda butut dan keranjang bambu, ia berkeliaran di setiap tumpukan sampah di kawasan Kota Langsa. Matanya terbelalak bak kamera auto fokus ketika menyortir barang bekas yang memiliki nilai jual.

Ia mengaku memiliki Kartu Keluarga (KK) sebagai warga gampong Matang Seulimeng Kecamatan Langsa Barat. Namun mirisnya, ia tak bisa menetap di gampong itu, karena harus berpindah pindah tempat menyewa rumah dengan harga lebih murah.
“Untuk sewa rumah saya harus mengumpulkan uang sebesar 6 juta pertahunnya. Terkadang biaya itu dibantu oleh anak,” bebernya.
Meski, memiliki 8 orang anak, Hamdani tak bisa berharap banyak. Pasalnya, ketujuh dari mereka berdomisili di luar negeri (Malaysia – red). Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia berjibaku dengan sampah.
“Sesekali mereka ada mengirimkan uang untuk keluarga disini, namun terbatas jumlahnya, karena itu saya harus bekerja agar yang di rumah bisa makan,” keluhnya.
Pasca bencana banjir November 2025, ia mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah. Bahkan namanya tak masuk sebagai penerima Jaminan Hidup dan bantuan Rumah Rusak, baik tahap I dan II.
“Sampai dengan sekarang belum ada yang menyampaikan kepada saya ihkwal tersebut, semoga menjadi perhatian bagi mereka yang memiliki kewenangan terkait bantuan tersebut,” pungkas pria renta ini.
Terik mentari tak jadi halangan dan rintangan. Tekad dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga dilakoninya dengan tulus.
Dibalik tubuhnya yang ringkih tersimpan semangat yang gigih. Roda sepeda butut dengan isi penuh sampah berputar seiring putaran kehidupan yang di perankan laki – laki tua itu. (**)
















