Industri Kreatif Aceh Tertekan Akibat Kebijakan Tak Konsisten dan Alasan Syariat yang Timpang

- Jurnalis

Selasa, 11 November 2025 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh – Atjeh Terkini.id – Pelaku industri kreatif Aceh menilai pembatalan berbagai acara berskala besar dalam beberapa tahun terakhir bukan sekadar masalah teknis, tetapi cermin nyata dari ketidakpastian kebijakan publik dan penyalahgunaan wewenang di tingkat daerah.

CEO PT Erol Perkasa Mandiri, Steffy Burase, menyebut pola penghambatan yang terjadi berulang kali telah merugikan seluruh penyelenggara acara di Aceh, mulai dari sektor musik, festival budaya, hingga kegiatan komersial lainnya.

“Ini bukan soal satu EO saja. Hampir semua acara nasional kandas karena hambatan administratif, aturan yang berubah tiba-tiba, atau alasan syariat yang sebenarnya sudah dinyatakan ‘lolos’ oleh Dinas Syariat Islam dan MPU. Ironisnya, konser-konser lokal yang tidak mengikuti aturan justru tetap berjalan,” ujarnya.

Steffy mengkritik bahwa pembatalan kegiatan sering kali bukan disebabkan alasan syariat, tetapi melalui mekanisme administrasi yang dianggap tidak sehat.

“Ada EO yang lapangannya digembok di hari-H, ada yang tiba-tiba menerima tagihan retribusi dengan angka tidak masuk akal, ada yang seluruh izinnya lengkap tetapi tetap dihentikan. Di kondisi seperti ini, EO mana pun tidak bisa bekerja dengan kepastian,” katanya.

Baca Juga :  Gampong Keuramat Kerab Banjir Butuh Perhatian Serius Walikota Banda Aceh

Ia menegaskan bahwa kasus yang dialami perusahaannya merupakan bentuk maladministrasi yang terang-benderang.

“Dalam kasus kami, alasan syariat tidak berlaku karena seluruh persyaratan keagamaan sudah lolos sejak awal. Yang muncul justru tagihan tidak rasional dan penggembokan venue. Ini bukan persoalan syariat. Ini persoalan tata kelola,” tegasnya.

Menurutnya, hambatan-hambatan ini berdampak langsung pada rantai ekonomi lokal.

“Setiap acara besar menyerap ratusan tenaga kerja. Vendor, UMKM, crew lokal, talent, semuanya hidup dari kegiatan ini. Kalau acara besar terus dihentikan, Aceh kehilangan perputaran uang miliaran rupiah,” jelasnya.

Ia juga mencatat fenomena baru: masyarakat Aceh kini memilih keluar daerah demi mendapatkan hiburan.

Baca Juga :  Mengenang Tragedi Tsunami, Pemerintah Aceh Ajak Warga  Zikir dan Doa Bersama di Masjid Raya Baiturrahman

“Lebih dari seribu warga Aceh bepergian ke luar provinsi untuk menghadiri konser nasional. Itu bukti kebutuhan masyarakat tetap ada, hanya saja tidak dapat dipenuhi di Aceh karena kebijakan yang tidak konsisten,” katanya.

Steffy menegaskan bahwa tuntutan para pelaku industri kreatif bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kepastian aturan yang konsisten dan berbasis kajian.

“Kalau aturan berubah tergantung siapa penyelenggaranya, itu bukan syariat dan bukan administrasi. Itu ketidakadilan. Suara kami adalah suara ratusan pelaku industri kreatif Aceh yang ingin bekerja dengan tenang, transparan, dan profesional,” ujarnya.

Ia menutup dengan menyerukan agar pemerintah Aceh membuka ruang dialog bersama pelaku industri kreatif.

“Kami hanya meminta standar yang jelas dan adil. Kalau ingin menjaga syariat, lakukan dengan konsisten. Kalau ingin menegakkan aturan, lakukan dengan prosedur yang benar. Yang rakyat Aceh butuhkan hari ini bukan larangan yang berubah-ubah, tetapi kepastian,” tutupnya.(**)

Berita Terkait

Audiensi Pengurus PWI Aceh, BPMA Siap Bekerjasama untuk Peningkatan Kapasitas Wartawan
DPD PBN Aceh Ajak Masyarakat Jadi Pelita bagi Korban Bencana Banjir Aceh  
Perpecahan Guncang IMAPPESBAR, Mosi Tidak Percaya PLT Agim Jipima
Peduli Korban Bencana Alam Warga Kota Banda Aceh Tidak Rayakan Tahun Pesta Pora Petasan
Bank Aceh Syariah Siapkan Relaksasi Nasabah Pembiayaan KUR/UMKM Terdampak Bencana
Gubernur Aceh Muzakir Manaf Terima Bantuan Kemanusiaan Secara Simbolis dari Warga Malaysia
IWAPI Aceh Peduli Salurkan Bantuan Logistik ke Tiga Kabupaten Daerah/Kota
Kisah Ainsyah Lansia Tempati Gubuk Reot di Ambang Roboh Terabaikan oleh Pemko Banda Aceh
Berita ini 101 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:10 WIB

Audiensi Pengurus PWI Aceh, BPMA Siap Bekerjasama untuk Peningkatan Kapasitas Wartawan

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:12 WIB

DPD PBN Aceh Ajak Masyarakat Jadi Pelita bagi Korban Bencana Banjir Aceh  

Senin, 12 Januari 2026 - 19:55 WIB

Perpecahan Guncang IMAPPESBAR, Mosi Tidak Percaya PLT Agim Jipima

Kamis, 1 Januari 2026 - 18:27 WIB

Peduli Korban Bencana Alam Warga Kota Banda Aceh Tidak Rayakan Tahun Pesta Pora Petasan

Selasa, 30 Desember 2025 - 21:23 WIB

Bank Aceh Syariah Siapkan Relaksasi Nasabah Pembiayaan KUR/UMKM Terdampak Bencana

Berita Terbaru