Dosen FTK UIN Ar-Raniry: Al-Quran Ajarkan Tanggung Jawab Ilmiah Menjaga Alam, Banjir Sumatera Jadi Alarm Ekologis

- Jurnalis

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH BESAR I Atjeh Terkini.Id- Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi, M.Ed., Ph.D, menegaskan bahwa Al-Qur’an, khususnya Al-Quran Surat Lukman ayat 20, memberikan landasan teologis sekaligus ilmiah tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ia menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Babul Iman, Gampong Lambheu, Kecamatan Darul Imarah, 27 Februari 2026 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 Hijriah, yang mengangkat tema integrasi iman, ilmu, dan aksi lingkungan.

Allah Swt berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu, dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, lahir dan batin?” (QS. Lukman: 20)

Menurut Rahmadon, frasa “menundukkan langit dan bumi” dapat dipahami secara ilmiah sebagai bentuk fine-tuning kosmologis yang memungkinkan kehidupan di bumi. Atmosfer, misalnya, menyerap hampir seluruh radiasi ultraviolet berbahaya, medan magnet bumi melindungi dari angin matahari dan konstanta gravitasi berada pada kadar presisi yang menjaga stabilitas orbit.

Semua ini menunjukkan keseimbangan fisika, kimia, dan biologi sebagai prasyarat ontologis kehidupan. Nikmat lahir bukan hanya udara dan air, tetapi juga siklus hidrologi global yang menjaga distribusi air di bumi. “Sementara nikmat batin tampak pada kapasitas akal manusia, neuroplastisitas otak, yang memungkinkan kesadaran etis dan refleksi rasional,” jelasnya.

Baca Juga :  Menyambut Hari Bhayangkara, Polres Aceh Barat Bantu Pulihkan Senyum Anak Negeri

Rahmadon mengaitkan ayat tersebut dengan peristiwa banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada November 2025. Curah hujan ekstrem di beberapa daerah, seperti Aceh Tamiang, Tapanuli Utara, dan Agam, diperparah oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat deforestasi.

Ia menjelaskan, hilangnya tutupan hutan secara signifikan meningkatkan limpasan permukaan (surface runoff) dan erosi tanah. “Ketika hutan di hulu rusak, hujan yang semula nikmat berubah menjadi bencana hidrometeorologi. Ini bukan sekadar faktor cuaca, tetapi gangguan antropogenik terhadap keseimbangan alam yang telah Allah tundukkan untuk kemaslahatan manusia,” tegasnya.

Rahmadon juga mengkritik mentalitas menyalahkan pihak lain tanpa dasar ilmu. Dalam ayat yang sama, terdapat peringatan terhadap orang yang membantah tanpa pengetahuan. “Sikap blame-shifting, menyalahkan cuaca atau pemerintah semata, tanpa solusi berbasis data seperti restorasi ekosistem DAS, adalah bentuk pengabaian terhadap amanah ilmiah,” ujarnya.

Dalam momentum Ramadhan 1447 H, Rahmadon mengajak umat Islam mengoperasionalkan pesan Al-Quran Surat Lukman melalui integrasi ibadah dan aksi nyata. Ia mendorong gerakan sedekah untuk reboisasi, penguatan literasi sains berbasis masjid, dan perencanaan program lingkungan berkelanjutan.

Baca Juga :  DPD PKS Aceh Barat Kukuhkan Tim Pemenangan TARSA Untuk Pilkada 2024

“Ramadhan bukan hanya ritual lapar dan haus. Ini momentum eco-theology, refleksi batin atau tafakkur yang melahirkan perilaku prolingkungan,” katanya.

Ia memaparkan sejumlah langkah konkret yang bisa dilakukan umat, seperti waktu sahur melakukan tafakkur atas nikmat air dan merencanakan sedekah untuk program reboisasi. Ketika tarawih, berdoa untuk korban banjir dan penggalangan bantuan sosial.

“Demikian pula ketika berbuka puasa, kita dapat berbagi makanan dengan para pengungsi dan keluarga terdampak. Waktu i’tikaf dengan menyusun program penanaman pohon dan rehabilitasi DAS secara kolaboratif,” ungkapnya.

Rahmadon menekankan, banjir Sumatera 2025 bukanlah “hukuman ilahi”, melainkan alarm sistemik atas kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis. “Nikmat lahir dan batin menuntut stewardship ilmiah, bukan ritual kosong. Allah Swt telah memudahkan langit dan bumi untuk kita, maka kita pun wajib memudahkan kehidupan saudara-saudara kita,” tegasnya.

Ia berharap, dari masjid-masjid lahir gerakan nyata berupa satu pohon ditanam, satu kehidupan diselamatkan. “Inilah jawaban umat terhadap panggilan Lukman, iman yang berbuah aksi, ilmu yang melahirkan solusi,” tutup Wakil Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Aceh ini. (**).

Penulis : Sayed M. Husen

Editor : Admin

Berita Terkait

Disebut Tak Terdampak Bencana, Warga Aceh Barat Berang : Rumah Hilang, Jembatan Ambruk dan Sekolah Hanyut
Pasang Plang Klaim Sepihak, Lahan Hutan Krueng Meulaboh Dibabat untuk Tanam Sawit
Oknum Mantan Bendahara Gampong Diduga Palsukan Setoran Uang Ratusan Juta
Gelap di Balik Dana Desa”, Papan Informasi Kosong, Warga Pulo Teungoh Murka dan Desak Audit
Komda LP-KPK Desak Bupati Tegaskan Hasil Audit Inspektorat Terkait Pengelolaan Dana Desa
Sekian Lama Huntara Tak Kunjung Bisa Ditempati, Korban Banjir Masih Terlunta
Respon Cepat Satlantas Aceh Barat Atasi Tumpahan Minyak di Simpang Pelor
Terpantau Pria Tak Dikenal Intai Rumah Ketua LANA
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 18:16 WIB

Disebut Tak Terdampak Bencana, Warga Aceh Barat Berang : Rumah Hilang, Jembatan Ambruk dan Sekolah Hanyut

Sabtu, 18 April 2026 - 12:12 WIB

Pasang Plang Klaim Sepihak, Lahan Hutan Krueng Meulaboh Dibabat untuk Tanam Sawit

Rabu, 15 April 2026 - 21:13 WIB

Oknum Mantan Bendahara Gampong Diduga Palsukan Setoran Uang Ratusan Juta

Kamis, 9 April 2026 - 12:13 WIB

Gelap di Balik Dana Desa”, Papan Informasi Kosong, Warga Pulo Teungoh Murka dan Desak Audit

Rabu, 8 April 2026 - 23:12 WIB

Komda LP-KPK Desak Bupati Tegaskan Hasil Audit Inspektorat Terkait Pengelolaan Dana Desa

Berita Terbaru

Jakarta

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia 

Sabtu, 18 Apr 2026 - 19:02 WIB