BIREUEN-| Atjeh terkini.id – Hampir masuk bulan ke tiga pasca bencana banjir dan longsor melanda Aceh akhir 2025 puluhan keluarga warga gampong Bale Panah, Kecamatan Juli, KM 9, di Kabupaten Bireuen masih bertahan ditenda pengungsian.
Informasi yang dihimpun dilapangan terlihat berdiri lima unit tenda bantuan Kementerian Sosial (Kemensos) dan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) namun tidak memadai untuk menampung ratusan warga mengali berbagai kesulitan, terlebih di bulan suci ramadhan 1447 H- 2026 M.
Suryani salah seorang pengungsi menjelaskan. adapun 10 unit Pembangunan Hunian Tetap (Huntap) masih dalam proses, sedangkan satu unit lainya sudah rampung namun belum layak huni dikarenakan belum ada listrik dan air bersih yang terpasang. Sebut kepada Atjeh Terkini. Jumat (20/02/2026).
Menurut Suryani. Terkait kesedian tenda tentu sangat terbatas selain ruang sempit dan harus dibagi untuk tidur, memasak, dan menyimpan barang yang terselamatkan dari bencana.
“Kendala lainya Saat musim kemarau, panas terik membuat bagian dalam tenda menjadi sangat gerah, tidak nyaman untuk anak-anak kami belajar maupun beristirahat. demikian juga kalau hujan khawatir bocor digenangi air bahkan bisa terpengaruh kesehatan.” Ujar Suryani.
Lebih lanjut. kami berharap kepada pemerintah perlu segera lakukan proses pembangunan Huntap yang layak huni, mengingat Huntap percontohan sekarang ini belum layak huni listrik dan air kebutuhan utama belum tersedia. Pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama Astuti, menambahkan. sejauh ini ia Bersama keluarga masih bertahan di pengungsian mengingat belum ada rumah hunian tetap (Rutap) adapun bantuan selama ini yakni
Bantuan Pemerintah, Dana Tunggu Huni (DTH), Dari dana tersebut tentunya sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terlebih sekarang ini bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri banyak kebutuhan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut terpaksa dana bantuan saya jadikan modal usaha jualan sayur kecil-kecilan khusunya pelanggan saya warga penghuni tenda pengusian.
“Untuk bertahan hidup saya terpaksa manfaatkan DTH menjadikan modal usaha jualan sayur kebutuhan dapur kebutuhan warga pengungsian disini.” Kata Astuti.
Kuluhan yang sama disampaikan oleh Hayatun. penghuni tenda BNPB selama ini mengalami kesulitan air bersih, terutama untuk masak mandi dan mencuci pakain, harapan kami kepala bapak kepala BPPB yang membidangi rutin salurkan bantuan air bersih mengingat kebutuhan air sangatlah banyak.
“Adapun selama ini kedatangan air bersih dua hari sekali, Padahal kebutuhan kita banyak, terutama buat memasak, mandi, dan mencuci pakaian anak-anak, oleh karenanya kami sangat berharap bisa diberikan pasokan air bersih setiap hari agar kebutuhan sehari-hari terpenuhi dengan baik, terutama di bulan Ramadan ini,” pinta Astuti.
Meskipun demikian kami para pengungsi menyampaikan syukur alhamdulillah stok sembako selama bulan Ramadan mencupi selain bantuan pemerintah juga bantuan dari sumber peduli bencana.
Terkaitan dengan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) dari pemerintah untuk menyewa rumah sementara mengalami kesulitan dapat bahkan lebih mahal, terkendala lainnya anak-anak kami sekolah, karena itu alasannya kami tetap bertahan di pengungsian. Kata sumber tidak menyebutkan Namanya.
“Kami bertahan di sini saja. Kalau sewa rumah jauh, anak sekolah susah, kerja juga jauh. Uang DTH rencananya untuk modal usaha, karena sekarang lapangan kerja sangat minim. Kebun dan rumah kami sudah dibawa arus,” ujarnya
Lebih lanjut. Di tengah keterbatasan dan minimnya lapangan kerja pasca bencana harapan kami paling tidak bisa kembali kerumah memulai kehidupan mudah-mudahan dengan perhatian perhatian dan dukungan pemerintah secepatnya kami bisa merayakan Lebaran Bersama keluarga meskipun dengan segala keterbatasan. Tutup sumber (Mega).
















