Bireuen | Atjeh Terkini.id – Menjelang bulan suci Ramadhan, tradisi Meugang kembali menjadi momen berbagi bagi masyarakat Aceh. Namun di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Meugang tahun ini terasa berbeda.
Perayaan yang biasanya berlangsung di rumah-rumah warga, kali ini digelar di Posko Pengungsian Desa Pantee Lhong, Selasa (17/2/2026).
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Angkatan ke-83/WPS Sindikat XII memilih menghadirkan tradisi tersebut langsung di tengah warga terdampak banjir melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Dianmas).
Dua ekor sapi disumbangkan dan dipotong bersama warga secara gotong royong. Prosesnya berlangsung sederhana namun penuh kebersamaan. Daging yang telah dipotong kemudian dimasak dan disantap bersama sekitar 100 warga pengungsi serta masyarakat sekitar.
Tidak hanya itu, sebagian daging turut dibagikan kepada kurang lebih 250 warga terdampak banjir di wilayah Kecamatan Peusangan agar manfaat Meugang dapat dirasakan lebih luas.
Sejak pagi, mahasiswa STIK terlihat aktif membantu mulai dari proses pemotongan, pengemasan, hingga pendistribusian daging. Interaksi yang terjalin antara mahasiswa dan warga menciptakan suasana hangat di tengah kondisi yang masih dalam tahap pemulihan.
Perwakilan Mahasiswa STIK Angkatan ke-83 mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus pembelajaran langsung bagi mahasiswa.
“Kami ingin Meugang tahun ini tetap dirasakan saudara-saudara kita yang sedang diuji musibah. Kehadiran kami di sini adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai calon perwira Polri untuk selalu dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat mengapresiasi langkah mahasiswa STIK yang memilih berbagi langsung di lokasi pengungsian.
“Ini bukan hanya soal bantuan daging, tetapi soal perhatian. Warga merasa diperhatikan dan tidak sendiri menghadapi situasi ini,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa STIK Angkatan ke-83 menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dan budaya lokal tetap dapat berjalan beriringan. Di tengah situasi pascabanjir, Meugang menjadi penguat semangat sekaligus pengingat bahwa solidaritas adalah kekuatan utama masyarakat Aceh.(Mega)
















