BIREUEN Atjeh Terkini.id- Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen menginisiasi laksanakan penyelenggaraan Seminar Nasional yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan dan mitigasi bencana banjir.
Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan Kampus Universitas Almuslim (Umuslim), Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh, Senin (9/2/2026).
Seminar nasional ini mengusung tema “Peran dan Kontribusi Kolaboratif Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim Bireuen Aceh, IDI Cabang Bireuen, PABI Aceh, dan Taman Iskandar Muda Jakarta dalam Penanggulangan dan Mitigasi Bencana Banjir:
Tantangan dan Strategi ke Depan”. Forum ini menjadi wadah diskusi strategis untuk memperkuat kerja sama antara akademisi, organisasi profesi, dan elemen masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di Aceh.
Sejumlah tokoh dan praktisi hadir sebagai pemateri,
di antaranya Dekan Fakultas Kedokteran Umuslim yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bireuen, dr. Zumirda, Sp.PD-ET, FINACS, FICS. Selain itu, seminar turut menghadirkan Ir. H. Muslim Armas, Ketua Umum Taman Iskandar Muda Jakarta, serta dr. Syafwan Achari, Sp.PD-ET, FINACS, Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Cabang Aceh.
Jalannya diskusi dipandu oleh dr. Noera Sovia Moeis, Sp.An-TI, selaku moderator. Dalam pemaparan materinya, para narasumber sepakat bahwa penanganan bencana banjir tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi kesehatan, komunitas sosial, dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam memperkuat kesiapsiagaan hingga upaya mitigasi jangka panjang.
Dekan Fakultas Kedokteran Umuslim, dr. Zumirda, menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat aktif dalam isu kebencanaan, tidak hanya melalui pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pengabdian langsung kepada masyarakat.
“Perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat, terutama saat terjadi bencana. Kontribusi tenaga medis, edukasi mitigasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab akademik,” ujarnya.
Sementara itu, Ir. H. Muslim Armas menekankan peran strategis organisasi kemasyarakatan dalam mendukung upaya penanggulangan bencana, khususnya dalam membangun kesadaran publik dan memperkuat solidaritas sosial di tingkat akar rumput.
Senada dengan itu, Ketua PABI Aceh, dr. Syafwan Achari, menyoroti pentingnya aspek kesehatan pascabencana. Menurutnya, dampak banjir tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Seminar nasional ini diikuti oleh kalangan dosen, mahasiswa, tenaga kesehatan, serta perwakilan organisasi dan masyarakat umum. Melalui forum tersebut, diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi dan langkah kolaboratif yang aplikatif guna memperkuat sistem penanggulangan dan mitigasi bencana banjir di masa mendatang. (Mega)
















