Kuasa Hukum Yakarim Munir Kecewa Penolakan Penangguhan Penahanan 

- Jurnalis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 08:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Singkil | Atjeh Terkini.id – Suasana tegang menyelimuti Pengadilan Negeri (PN) Aceh Singkil hari ini, setelah majelis hakim menolak permohonan penangguhan penahanan atas terdakwa Yakarim Munir, Rabu, (1/10/2025).

Keputusan ini tidak hanya mengecewakan tim kuasa hukum, tetapi juga memicu amarah ratusan pendukung pak Yakarim yang memadati halaman Pengadilan Negeri Aceh Singkil sejak pagi.

Sidang yang digelar pada Rabu pagi itu berlangsung singkat namun penuh ketegangan. Dalam amar putusan yang dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim, permohonan penangguhan penahanan ditolak dengan alasan hukum yang dinilai “masih cukup kuat untuk mempertahankan status penahanan terdakwa.” Keputusan tersebut sontak memicu reaksi keras dari pihak kuasa hukum maupun massa simpatisan yang hadir.

Surat jaminan dari tokoh masyarakat diabaikan yang menjadi sorotan tajam adalah fakta bahwa pihak Yakarim telah melampirkan sejumlah surat jaminan dari kalangan berbagai tokoh masyarakat, organisasi sipil, dan elemen adat Aceh Singkil. Namun seluruh dokumen tersebut tampaknya tak bernilai di mata hakim.

“Ini sangat tidak masuk akal. Semua syarat formil dan materil sudah kami penuhi. Ada jaminan dari tokoh adat, tokoh agama, bahkan dari lembaga masyarakat sipil. Lalu di mana letak keadilan itu? Apakah hukum sekarang hanya tunduk pada kekuasaan dan uang,” tegas H. Rafiq Hasibuan, SH, salah satu kuasa hukum Yakarim, usai sidang.

Baca Juga :  Dianggap Pahlawan Rakyat, Warga Serbu PN Singkil Saat Sidang Yakarim Munir 

Massa meledek, Hakim Jangan berpihak pada yang berduit, ujar mereka, tak lama setelah putusan dibacakan, suasana di luar ruang sidang memanas. Ratusan pendukung Yakarim Munir yang sedari awal telah berjaga di sekitar PN Aceh Singkil langsung meluapkan kekecewaan mereka. Teriakan “Ketidakadilan! Hakim berpihak!” bergema hingga ke dalam ruang sidang.

Yakarim sendiri, yang berada di ruang tahanan pengadilan, sempat berteriak lantang Hakim jangan berpihak pada yang berduit seruan tersebut disambut gemuruh dukungan dari massa yang terus menyuarakan protes keras mereka.

Aparat kepolisian yang berjaga segera memperketat pengamanan dan membentuk barikade untuk mencegah aksi massa berkembang menjadi kericuhan. Setelah beberapa waktu, situasi perlahan berhasil dikendalikan, meski suasana masih diliputi rasa tidak puas.

Kasus Bersifat Perdata, Tapi Ditahan? Kuasa Hukum Heran lebih lanjut, kuasa hukum mempertanyakan dasar penahanan Yakarim yang disebut berasal dari kasus bernuansa perdata, namun diperlakukan seperti perkara pidana berat.

“Kami tegaskan lagi, perkara ini secara substansi adalah ranah perdata. Tapi perlakuan terhadap klien kami seolah-olah dia penjahat kelas kakap. Kami akan kaji ulang dan tempuh langkah hukum lanjutan, termasuk kemungkinan praperadilan,” tutur Rafiq dengan nada kecewa.

Pernyataan ini membuka dugaan bahwa proses hukum terhadap Yakarim Munir tak sekadar soal hukum, namun berpotensi diliputi kepentingan yang belum sepenuhnya terbuka ke publik.

Baca Juga :  Misteri PSR Lahan Plasma Disulap Jadi Program Petani, Dugaan KKN Menguap Rp 7,5 Miliar

Pengadilan Dituntut Transparan dan Independen penolakan penangguhan ini menambah panjang daftar pertanyaan publik terhadap independensi peradilan di daerah.

Sejumlah aktivis hukum lokal menyuarakan keprihatinan mereka atas ketertutupan informasi dan keputusan yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan restoratif.

“Jika tokoh masyarakat tak lagi didengar, jika jaminan moral dari komunitas diabaikan, lalu siapa yang bisa menjamin bahwa hukum benar-benar berjalan untuk rakyat?” ujar Nur Aisyah, aktivis hukum dari LSM Keadilan Rakyat Aceh Singkil.

Perlawanan Hukum Akan Berlanjut meski hari ini kekalahan terjadi di ruang sidang, tim kuasa hukum menegaskan bahwa perlawanan belum selesai. Mereka berencana menempuh semua jalur hukum yang tersedia, bahkan jika perlu menggugat secara administratif dan etik kepada lembaga pengawas yudisial.

“Kami tidak akan mundur. Keadilan harus ditegakkan, bukan ditekan oleh kepentingan. Sidang ini mungkin milik mereka, tapi kebenaran tetap berpihak pada yang tertindas,” pungkas Rafiq sambil meninggalkan gedung pengadilan.

Pihak Pengadilan Negeri Aceh Singkil belum memberikan keterangan resmi kepada tim media mengingat waktu kesibukan sehingga berita ditayangkan,dan masih berupaya menghubungi humas pengadilan untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut.(Aiyub Bancin)

Berita Terkait

BKMT Ajak Wanita Jadikan Sholat Sebagai Kebutuhan, Bukan Hanya Kewajiban
Ketua DPC-LAKI : TPHP TA 2025 Jangan Asal Teken, Inspektorat dan BPK Perketat Pengawasan
AMPAS Soroti Restorative Justice Kasus Kematian di PT Delima Makmur Aceh Singkil
GAMAS Menduga Hak Guna Usaha PT Nafasindo Sudah Kadaluwarsa 
Sekjen ALAMP AKSI Desak Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Singkil Tinjau Ulang Rencana Bimtek 
Ratusan Warga Gelar Aksi Protes di PT Socfindo Lae Butar Tuntut 9 Poin 
Saripuddin No Urut (3) Unggul Terpilih Imum Mukim Gosong Telaga 2025
Diduga Main Mata Oknum Inspektorat dan Kades Ladang Bisik 
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 17:34 WIB

BKMT Ajak Wanita Jadikan Sholat Sebagai Kebutuhan, Bukan Hanya Kewajiban

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:10 WIB

Ketua DPC-LAKI : TPHP TA 2025 Jangan Asal Teken, Inspektorat dan BPK Perketat Pengawasan

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:05 WIB

AMPAS Soroti Restorative Justice Kasus Kematian di PT Delima Makmur Aceh Singkil

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:16 WIB

GAMAS Menduga Hak Guna Usaha PT Nafasindo Sudah Kadaluwarsa 

Jumat, 21 November 2025 - 19:41 WIB

Sekjen ALAMP AKSI Desak Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Singkil Tinjau Ulang Rencana Bimtek 

Berita Terbaru

Pemerintahan

Plt Kadis Pendidikan Dayah Aceh Andriansyah Kembali Jabat Kabid SDM

Minggu, 18 Jan 2026 - 01:04 WIB