“Kebijakan yang baik harus berpihak pada rasa keadilan dan ketepatan Waktu”
BANDA ACEH I – Atjeh Terkini.id- I Bantuan Meugang dari Presiden untuk masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh dikabarkan telah masuk ke daerah. Namun hingga kini, di 19 kabupaten/kota, sapi belum juga dibeli karena masih menunggu petunjuk teknis (juknis).
Waktu terus berjalan. Meugang semakin dekat. Rakyat tak bisa menunggu birokrasi yang terlalu kaku.
Drs. Isa Alima, Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, menyampaikan pandangannya dengan tegas: administrasi jangan sampai menghambat rasa kemanusiaan.
“Dalam situasi seperti ini, administrasi tidak perlu kaku dan berbelit. Momentum Meugang bukan sekadar tradisi, tapi simbol kepedulian dan kebersamaan. Jangan sampai niat baik negara terhambat karena teknis yang terlalu panjang,” ujarnya. kepada Atjeh Terkini.id (13/02/2026).
Menurutnya, solusi paling rasional adalah langsung mendistribusikan anggaran ke desa-desa terdampak, masing-masing sebesar Rp50 juta sesuai kalkulasi yang telah ada. Dana tersebut kemudian dikelola oleh kepala desa (keuchik) bersama perangkat dan tokoh-tokoh gampong untuk membeli hewan ternak di wilayah masing-masing.
“Serahkan saja langsung kepada keuchik. Biarkan perangkat desa dan orang-orang tua di gampong yang bertanggung jawab kepada warganya. Mereka lebih tahu siapa yang terdampak dan bagaimana pembagiannya agar adil,” tegasnya.
Pendekatan ini dinilai tidak hanya mempercepat realisasi bantuan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Hewan ternak bisa dibeli dari peternak di kampung sendiri, sehingga dana tetap berputar di desa dan manfaatnya lebih luas.
Meugang di Aceh bukan sekadar menyembelih sapi. Ia adalah denyut tradisi, ruang berbagi, dan cara masyarakat merawat harga diri di tengah kesulitan. Apalagi bagi korban bencana, momen ini menjadi penguat semangat bahwa mereka tidak sendiri.
Isa Alima mengingatkan, kebijakan yang baik harus berpihak pada rasa keadilan dan ketepatan waktu.
“Kalau dana sudah ada, jangan biarkan rakyat hanya mendengar kabar tanpa merasakan manfaat. Negara harus hadir bukan hanya dalam pengumuman, tapi dalam daging yang benar-benar sampai ke meja makan masyarakat terdampak,” tutupnya.
Kini yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan cepat dan tepat. Karena dalam urusan kemanusiaan, waktu adalah segalanya. Berikan saja hak otonom kepada perangkat dan pak geusyik di daerah terdampak bencana!. (red).
Editor : Mega
Sumber Berita: Rilis
















