Petani Menjerit Harga CMK Anjlok, Pemda di Minta Pantau Situasi Pasar ‎

- Jurnalis

Minggu, 25 Januari 2026 - 16:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎Aceh Selatan | Atjeh Terkini.id – Kabar duka menyelimuti para petani hortikultura di Kabupaten Aceh Selatan. Ditengah harapan akan hasil panen yang melimpah, para petani Cabai Merah Keriting (CMK) justru harus menelan pil pahit.

Harga jual cabai di tingkat petani merosot tajam hingga menyentuh angka Rp20.000 per kilogram, sebuah nilai yang dinilai jauh dari kata ideal untuk menutup biaya produksi.

‎Kondisi ini memicu keluhan massal dari para petani di beberapa kecamatan sentra produksi, salahsatunya di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Penurunan harga drastis ini dianggap tidak lagi masuk akal jika dibandingkan dengan modal yang harus dikeluarkan sejak masa penyemaian hingga pemetikan.

‎”Bagi para petani, angka Rp20.000 per kilogram bukanlah sekadar angka statistik, melainkan ancaman kerugian nyata,” ungkap Heri Sofyantoro, salah satu petani CMK asal Desa Balai, Kecamatan Samadua, kepada SikatKasus.News, Minggu (25/1/2026).

‎Kata dia, untuk menghasilkan cabai dengan kualitas yang baik, dibutuhkan perawatan ekstra yang memakan biaya besar.

Baca Juga :  Jalan Lintas Kota Fajar Menggamat Rusak, Dikeluhkan Masyarakat

‎”Harga Rp20.000 itu sangat menyesakkan dada. Bayangkan, harga obat-obatan pertanian, pestisida, dan pupuk non-subsidi terus naik hampir setiap bulan. Kalau harganya segini, kami bukan untung, malah ‘buntung’ (rugi),” keluh petani itu.

‎Berdasarkan hitungan kasar para petani, idealnya harga cabai di tingkat produsen berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram agar mereka bisa mendapatkan margin keuntungan yang sehat untuk menyambung hidup dan modal tanam musim berikutnya.

‎Selain itu, sambung Heri, Harga sarana produksi pertanian seperti obat semprot fungisida dan insektisida meningkat signifikan, membuat biaya operasional membengkak.

‎”Kondisi cuaca yang tidak menentu mengharuskan petani memberikan perawatan ekstra agar batang cabai tidak terserang penyakit patek (antraknosa) atau layu fusarium, yang tentu membutuhkan biaya obat tambahan,” kata Heri.

‎Dia mengklaim banyaknya pasokan cabai dari luar daerah menjadi salahsatu faktor anjloknya harga cabai petani lokal, “padahal, jelas kualitas cabai kita jauh lebih unggul,” tukasnya.

Baca Juga :  Refleksi Tahun Perdana Kepemimpinan MANIS

‎Pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, melalui Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan, dapat segera turun tangan melakukan intervensi. Langkah-langkah seperti pemantauan rantai distribusi atau penyediaan subsidi pupuk dan obat-obatan sangat dinantikan guna meringankan beban para pahlawan pangan ini.

‎”Kami juga berharap Plt. Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis, dapat mempertimbangkan untuk mengeluarkan surat edaran atau arahan khususnya kepada dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) agar mengutamakan pembelian serta penggunaan cabai lokal,” harapnya.

‎Menurutnya, langkah ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi daerah.

‎”Sejauh ini kami melihat pemerintah hanya turun tangan ketika harga pangan melonjak tinggi dengan menggelar pasar murah, akan tetapi ketika harga pangan anjlok kami belum melihat adanya gebrakan dari Pemda untuk menyelamatkan para petani,” demikian pungkas petani CMK asal Samadua itu.(Khairul Miza)

Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 16:42 WIB

Petani Menjerit Harga CMK Anjlok, Pemda di Minta Pantau Situasi Pasar ‎

Berita Terbaru

Walikota Langsa Jeffry Sentana S Putra SE

Pemerintahan

Pebruari 2026 OPD Dirampingkan, Begini Kata Walikota Langsa 

Minggu, 25 Jan 2026 - 16:35 WIB