Hutan dan Hujan

- Jurnalis

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap turun hujan membuat hati ini berdebar kencang. Padahal hujan merupakan rahmat dari Allah SWT. Hal tersebut seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 57, yang menjelaskan Allah meniupkan angin sebagai kabar gembira sebelum hujan (rahmat-Nya).

Selanjutnya, surat Qaf ayat 9 tentang menurunkan air yang penuh berkah, serta Surat Asy-Syura ayat 28, yang menyatakan Allah menurunkan hujan setelah manusia berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya, menekankan hujan sebagai nikmat dan berkah yang mendatangkan kehidupan dan kesuburan.

Namun kini, nyatanya bumi (Aceh, Sumut dan Sumbar) tak mampu lagi menampung air yang turun dari langit. Tentu semua orang terdampak banjir sebulan lalu mengerti, mengapa air tak mampu lagi diserap bumi.

Baca Juga :  Hujan Terus Mendera, Warga Diimbau Siaga Bencana 
Dok foto : BBC News Indonesia

Pelajaran tentang pohon mampu menahan dan menyerap air sudah di ajarkan sejak duduk di Sekolah Dasar. Namun tampaknya ilmu itu tak benar – benar dipahami mungkin dianggap sebagai mitologi.

Hutan dijadikan sumber penghasilan besar – besaran. Pohon – pohon di tebang diganti dengan pohon lainnya. Kayu dijadikan komoditi untuk mengais rezeki. Sehingga hutan tidak lagi lestari sebagaimana tugas dan fungsi.

Banjir bandang pada 26 November 2025 lalu menjadi bukti, banyaknya kayu gelondongan hanyut terseret banjir. Merusak seluruh infrastruktur serta sendi sosial kehidupan masyarakat.

Seolah hujan menjadi momok menakutkan, padahal tidak namun karena hutan gundul dan beralih fungsi, hujan menjadi alamat sebab akibat  banjir yang terjadi.

Baca Juga :  Jelang Mubar PAS Aceh "Retak", Ini Kata Pendiri dan Inisiator PAS Aceh
Dok foto: detiknews

Hujan terus mendera, doa – doa terus dipanjatkan agar lekas berhenti. Mengingat tak ada lagi yang bisa diandalkan untuk menahan dan menyerap air hujan.

Beberapa malam lalu, temanku bercerita saat hujan tiba. “Ngak bisa tidur aku wak, ku cek lagi pintu belakang, cek lagi teras depan, sederas apa hujan, seraya jantung berdebar kencang,” ujarnya.

Di penghujung dan awal tahun wilayah geografis Indonesia musim penghujan, tentu hujan masih mendominasi. Langit gelap mendung hitam bergelayut. Dalam hati berdoa kepada yang maha kuasa.

“Ya Allah SWT, cukupkanlah derita hamba dan umat lainnya dengan banjir bulan lalu. Hentikan hujan, semoga berkah dan Rahmat Mu tidak berkurang,” guman ku dalam hati.(Syaf)

Berita Terkait

Aceh Kewalahan Tangani Banjir dan Longsor: Saatnya Kita Berfikir Lebih Dalam
Aceh Utara Bangkit dan Sejahtera Sebuah Cita-cita dan Do’a
Dr. Iswadi: Pendidikan adalah Kunci Transformasi dan Kemajuan Bangsa
Dua Dekade Damai Aceh, Keadilan yang Tertunda
Gerilyawan di Balik Meja Tenaga Ahli DPR RI dan Ancaman Senyap bagi Kepala Daerah Baru
Ada Apa Dengan Kota Langsa
Kari Kambing Khas Bireuen Jadi Favorite Manjakan Lidah Menu Buka Puasa di Bulan Ramadhan
Berbuka Puasa dengan Kurma, Ini Keistimewaannya
Berita ini 134 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:36 WIB

Hutan dan Hujan

Senin, 8 Desember 2025 - 09:38 WIB

Aceh Kewalahan Tangani Banjir dan Longsor: Saatnya Kita Berfikir Lebih Dalam

Kamis, 6 November 2025 - 09:43 WIB

Aceh Utara Bangkit dan Sejahtera Sebuah Cita-cita dan Do’a

Kamis, 9 Oktober 2025 - 09:30 WIB

Dr. Iswadi: Pendidikan adalah Kunci Transformasi dan Kemajuan Bangsa

Jumat, 15 Agustus 2025 - 18:57 WIB

Dua Dekade Damai Aceh, Keadilan yang Tertunda

Berita Terbaru

Plt. Direktur RSUD Langsa, r Erizal, SKM, M.Kes. Foto/ist.

Kesehatan

Walikota Tunjuk Erizal sebagai Direktur RSUD Langsa

Senin, 5 Jan 2026 - 19:44 WIB