Setiap turun hujan membuat hati ini berdebar kencang. Padahal hujan merupakan rahmat dari Allah SWT. Hal tersebut seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 57, yang menjelaskan Allah meniupkan angin sebagai kabar gembira sebelum hujan (rahmat-Nya).
Selanjutnya, surat Qaf ayat 9 tentang menurunkan air yang penuh berkah, serta Surat Asy-Syura ayat 28, yang menyatakan Allah menurunkan hujan setelah manusia berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya, menekankan hujan sebagai nikmat dan berkah yang mendatangkan kehidupan dan kesuburan.
Namun kini, nyatanya bumi (Aceh, Sumut dan Sumbar) tak mampu lagi menampung air yang turun dari langit. Tentu semua orang terdampak banjir sebulan lalu mengerti, mengapa air tak mampu lagi diserap bumi.

Pelajaran tentang pohon mampu menahan dan menyerap air sudah di ajarkan sejak duduk di Sekolah Dasar. Namun tampaknya ilmu itu tak benar – benar dipahami mungkin dianggap sebagai mitologi.
Hutan dijadikan sumber penghasilan besar – besaran. Pohon – pohon di tebang diganti dengan pohon lainnya. Kayu dijadikan komoditi untuk mengais rezeki. Sehingga hutan tidak lagi lestari sebagaimana tugas dan fungsi.
Banjir bandang pada 26 November 2025 lalu menjadi bukti, banyaknya kayu gelondongan hanyut terseret banjir. Merusak seluruh infrastruktur serta sendi sosial kehidupan masyarakat.
Seolah hujan menjadi momok menakutkan, padahal tidak namun karena hutan gundul dan beralih fungsi, hujan menjadi alamat sebab akibat banjir yang terjadi.

Hujan terus mendera, doa – doa terus dipanjatkan agar lekas berhenti. Mengingat tak ada lagi yang bisa diandalkan untuk menahan dan menyerap air hujan.
Beberapa malam lalu, temanku bercerita saat hujan tiba. “Ngak bisa tidur aku wak, ku cek lagi pintu belakang, cek lagi teras depan, sederas apa hujan, seraya jantung berdebar kencang,” ujarnya.
Di penghujung dan awal tahun wilayah geografis Indonesia musim penghujan, tentu hujan masih mendominasi. Langit gelap mendung hitam bergelayut. Dalam hati berdoa kepada yang maha kuasa.
“Ya Allah SWT, cukupkanlah derita hamba dan umat lainnya dengan banjir bulan lalu. Hentikan hujan, semoga berkah dan Rahmat Mu tidak berkurang,” guman ku dalam hati.(Syaf)














