Korban Banjir Aceh Tamiang Mulai Diserang Penyakit, Butuh Obat dan Air Bersih

- Jurnalis

Senin, 8 Desember 2025 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tamiang porak-poranda akibat terjangan banjir bandang yang membawa bongkahan dan kayu gelondongan menghantam dan menimbun permukiman hingga tak berbekas. (Dok PWI Aceh Tamiang)

Aceh Tamiang porak-poranda akibat terjangan banjir bandang yang membawa bongkahan dan kayu gelondongan menghantam dan menimbun permukiman hingga tak berbekas. (Dok PWI Aceh Tamiang)

BANDA ACEH I Atjeh Terkini.id- Situasi pasca bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang kini semakin memprihatinkan.

Berdasarkan hasil asesmen lapangan yang disampaikan oleh Ketua PWI Langsa, Putra Zulfirman, kepada Posko PWI Aceh Peduli Korban Banjir dan Longsor di Banda Aceh, Ahad sore, 7 Desember 2025, korban banjir di wilayah tersebut kini mulai diserang berbagai penyakit akibat kondisi lingkungan yang tidak higienis dan keterbatasan fasilitas kesehatan di lokasi pengungsian.

Warga yang mengungsi di sejumlah titik melaporkan banyak yang mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), batuk, demam, penyakit kulit dan gatal-gatal, serta luka-luka akibat terbawa arus banjir maupun terkena benda tajam saat berupaya menyelamatkan diri.

Beberapa di antara mereka juga mulai mengalami gangguan pencernaan, terutama anak-anak dan lansia, akibat konsumsi air tidak layak minum dan makanan yang sudah terkontaminasi.

“Situasi di lapangan cukup berat. Banyak pengungsi termasuk anak-anak dan ibu-ibu yang mulai sakit, sementara akses terhadap obat-obatan dan tenaga medis masih sangat terbatas. Air bersih juga sulit didapat, sehingga risiko penyakit menular makin besar,” kata Putra Zulfirman dalam laporan tertulisnya kepada Posko PWI Aceh Peduli.

Ia menyebutkan, kebutuhan mendesak di lapangan saat ini bukan hanya bahan pangan, tetapi juga kebutuhan pokok untuk mendukung keselamatan dan kesehatan para korban banjir, antara lain:

Baca Juga :  Soal Dukungan Bawa Nama PAS, Wasekjend PAS Aceh Angkat Bicara

1. Air minum
2. Air bersih untuk kebutuhan harian
3. Obat-obatan dasar dan antiseptik
4. Tenda pengungsian
5. Fasilitas WC portable
6. Selimut dan alas tidur
7. Kebutuhan khusus bayi dan perempuan (susu, popok, pembalut, dan pakaian dalam)
8. Pakaian layak pakai

Putra Zulfirman menegaskan, sebagian besar wilayah terdampak masih mengalami kesulitan akses transportasi karena sejumlah ruas jalan utama terputus akibat banjir dan longsor.

Kondisi tersebut membuat pengiriman bantuan logistik dan medis ke desa-desa terdampak menjadi terhambat.

“Beberapa titik pengungsian berada di lokasi yang terisolir. Perahu karet atau kendaraan tinggi sangat dibutuhkan untuk menyalurkan bantuan ke sana. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan penyakit akan semakin meluas,” ujar Putra Zulfirman sebagai penghubung kawan-kawan di Aceh Tamiang.

Sementara itu, Posko PWI Aceh Peduli Korban Banjir dan Longsor di Banda Aceh terus berkoordinasi dengan jaringan wartawan daerah, lembaga kemanusiaan, dan pihak pemerintah untuk mempercepat distribusi bantuan.

Koordinator Posko Bantuan Kemanusiaan PWI Aceh, Muhammad Saman mengimbau seluruh pihak untuk memperhatikan kondisi para korban banjir di Aceh Tamiang yang kini mulai menghadapi ancaman kesehatan serius.

Baca Juga :  Dayah Insan Qurani Terima Penghargaan dari Kemenag Aceh

“Bantuan obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya sangat dibutuhkan segera. Kami mengajak semua elemen masyarakat, instansi, dan relawan untuk turut membantu saudara-saudara kita di Aceh Tamiang yang sedang berjuang menghadapi masa sulit ini,” kata Muhammad Saman.

Banjir besar yang melanda 18 Kabupaten/Kota di Aceh sejak 26 November 2025 disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari, ditambah dengan meluapnya sejumlah sungai.

Puluhan ribu rumah warga terendam, ribuan hektare lahan pertanian rusak, dan ratusan ribu jiwa terpaksa mengungsi, dan ratusan korban jiwa.

Meski air di beberapa titik mulai surut, namun ancaman penyakit pascabanjir kini menjadi fokus utama penanganan.

Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, dan berbagai lembaga kemanusiaan tengah berupaya mempercepat penyaluran bantuan serta membangun fasilitas sementara untuk kebutuhan air bersih dan sanitasi.

“Korban sudah lelah secara fisik dan mental. Jika masalah kesehatan tidak segera diatasi, maka dampaknya bisa jauh lebih parah daripada banjir itu sendiri,” tambah Putra Zulfirman.

Warga berharap pemerintah pusat dan provinsi segera mengirim bantuan medis, tenaga kesehatan, dan logistik tambahan agar kondisi di pengungsian tidak semakin memburuk. (**).

Berita Terkait

Tim Tabur Kejari Aceh Berhasil Menangkap DPO
PWI Aceh Utara dan Lhokseumawe Siap Gelar Konferensi 2- 3 Februari 2026
PWI Aceh Kirim 8 Wartawan Retret di Pusdikat Kemhan Bogor
Kala Dessy Maulidha Semangati Belajar-Bermain Murid PAUD Salsabila
Illiza Lanjutkan Kerja Sama Siter City Banda Aceh-Higashimatsushima
Jejak Penyebab Bencana Hidrometeorologi Menurut Pemerhati Lingkungan Hidup 
Audiensi Pengurus PWI Aceh, BPMA Siap Bekerjasama untuk Peningkatan Kapasitas Wartawan
DPD PBN Aceh Ajak Masyarakat Jadi Pelita bagi Korban Bencana Banjir Aceh  
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:45 WIB

Tim Tabur Kejari Aceh Berhasil Menangkap DPO

Kamis, 29 Januari 2026 - 13:37 WIB

PWI Aceh Utara dan Lhokseumawe Siap Gelar Konferensi 2- 3 Februari 2026

Minggu, 25 Januari 2026 - 00:39 WIB

PWI Aceh Kirim 8 Wartawan Retret di Pusdikat Kemhan Bogor

Kamis, 22 Januari 2026 - 21:22 WIB

Kala Dessy Maulidha Semangati Belajar-Bermain Murid PAUD Salsabila

Selasa, 20 Januari 2026 - 20:22 WIB

Illiza Lanjutkan Kerja Sama Siter City Banda Aceh-Higashimatsushima

Berita Terbaru