Permahi Kritisi 4 Pulau Aceh Pindah ke Sumut 

- Jurnalis

Sabtu, 14 Juni 2025 - 21:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh | Atjeh Terkini.id – Polemik pergeseran wilayah administratif empat pulau dari Aceh ke Provinsi Sumatera Utara makin memanas. Perhimpunan Mahasiswa Hukum Aceh (Permahi) mengecam keras keputusan ini dan menilai langkah tersebut tidak hanya melukai perasaan masyarakat Aceh, tetapi juga mencederai kehormatan sejarah Aceh sendiri.

“Selama ini pulau itu berada di bawah administrasi Aceh. Tiba-tiba dipindahkan ke Sumut tanpa diskusi. Ini bukan sekadar koordinat yang digeser di peta, ini soal marwah,” kata Ketua Permahi Rifqi Maulana, S.H.

Empat pulau yang dimaksud Pulau Panjang, Mangkir Gadang, Mangkir Ketek, dan Pulau Lipan secara geografis, historis, dan administratif telah lama menjadi bagian dari Aceh. Bahkan, Pemerintah Aceh dan Kabupaten Aceh Singkil telah membangun berbagai infrastruktur di pulau-pulau tersebut sejak 2007, dengan menggunakan dana APBD.

Baca Juga :  PKS Tak Layak Berada di Kawasan Perkotaan, Puluhan Mahasiswa Demo PT Socfindo

“Isu batas wilayah ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan juga menyangkut kehormatan dan sejarah. Sejak dulu, pulau-pulau itu adalah bagian dari Aceh. Itu fakta yang hidup dalam memori kolektif masyarakat,” tambah Rifqi.

Bagi rakyat Aceh, tanah bukan hanya aset, tetapi identitas. Sejarah panjang perjuangan dan konflik berdarah membuat setiap jengkal wilayah Aceh menyimpan nilai simbolik yang dalam. Ketika wilayah itu digeser secara sepihak, yang tercabik bukan hanya peta, tapi juga harga diri.

“Kami tidak bicara atas dasar emosi semata. Kami bicara soal sejarah yang sudah berurat akar, dan soal kesepakatan damai yang menjadi pondasi perdamaian Aceh. Jangan main-main dengan itu,” katanya.

Baca Juga :  Membanggakan, Polwan Aceh Raih Juara II Presisi Beregu Kejuaraan Menembak Kapolri Cup 2025

Permahi juga menolak gagasan “pengelolaan bersama” sebagai solusi damai. Menurut mereka, itu hanya mempermanenkan tindakan sepihak yang mengkhianati semangat MoU Helsinki.

“Kami cinta damai, tapi jangan rampas hak kami sejengkal pun. Jangan membangunkan singa yang sedang tidur,” ucap Rifqi.

Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera turun tangan dan mencopot Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang dianggap paling bertanggung jawab atas kekisruhan ini.

“Aceh ingin damai, ingin hidup tenang. Tapi damai itu hanya mungkin jika perjanjian dihormati, jika sejarah tidak diputarbalikkan. MoU Helsinki itu kesepakatan antar dua lelaki. Dan lelaki, tak pernah ingkar janji.” pungkasnya.

Berita Terkait

Illiza Buka Puasa Bersama Keluarga Besar KONI Banda Aceh 
Illiza Tinjau Pasar Murah Sambut Idul Fitri 1447 H di Jeulingke
Terima Rapor Ombudsman 2025, Illiza Komit Tingkatkan Pelayanan Publik
Seleksi JPT Pratama Banda Aceh Resmi Dibuka, 15 Peserta Ambil Bagian
Wakil Kota Banda Aceh Afdal Lanjutkan Safari Ramadhan
Illiza Sebutkan : 51 Tahun Perumdam Tirta Daroy Alirkan Air Penuhi Kebutuhan Masyarakat Banda Aceh
Pimred : Irwansyah Saputra SH Bukan Wartawan Atjeh Terkini.id, Laporkan Bila ada Pemerasan oleh Oknum ini
Khutbah Jumat Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry: Ramadhan Puncak Etos Kerja Muslim
Berita ini 191 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 00:04 WIB

Illiza Buka Puasa Bersama Keluarga Besar KONI Banda Aceh 

Rabu, 4 Maret 2026 - 23:52 WIB

Illiza Tinjau Pasar Murah Sambut Idul Fitri 1447 H di Jeulingke

Rabu, 4 Maret 2026 - 23:46 WIB

Terima Rapor Ombudsman 2025, Illiza Komit Tingkatkan Pelayanan Publik

Rabu, 4 Maret 2026 - 23:38 WIB

Seleksi JPT Pratama Banda Aceh Resmi Dibuka, 15 Peserta Ambil Bagian

Jumat, 27 Februari 2026 - 03:27 WIB

Wakil Kota Banda Aceh Afdal Lanjutkan Safari Ramadhan

Berita Terbaru